FEATURED

Field Notes: On whose land?

Frontline Reports from the Lush Buying Team: 

This week, head of the buying team, Simon Constantine, reports on his recent visit to Sumatra where he met with members of the Indigenous Orang Rimba tribe who are forced to illegally forage on forest land taken from them and given to those companies tearing up the native forest to plant palm trees for palm oil.

On Whose Land?

It's not even 9.15am but already an altercation has taken place. A few moments before I arrive in Bukit Suban village in Sumatra, a member of the Orang Rimba has fallen foul of the resident palm oil company - part of the Indonesian conglomerate - Astra group.

The woman, a member of the Air Panas group, had been collecting rotting palm fruits from the plantation floor. The fallen fruits still have a value and can bring enough income when sold to middlemen in the village. However legally, the fallen fruit belongs to Astra.

It's unusual to get the opportunity to talk so directly to a female member of the Orang Rimba. Ordinarily revered and protected from outsiders many communities will not entertain a Westerner conversing with a woman. But this group and this situation is so emotive all taboos seem to melt away and so I pay close attention when she speaks.

Acting out the affront suffered at the hands of the local security team she mimics their aggression. Via a translator I hear how, by simply collecting the fruits, she has inadvertently endangered both herself and her community. The security guards intimidated her, bringing, as she describes it, a ‘long gun’ and harassing her to the point where she is still visibly shaken and upset sometime later.

It's got the community riled.

It may seem like peanuts (or palm nuts to be precise) but this is a bubbling up of resentment, and of angry emotions, that stretch back in time.

The Orang Rimba represent some of the last forest-dwelling Indigenous peoples of Sumatra. They consider themselves a part of the forest, it quite literally is their home, with many of them choosing to live in frugal shelters taking sustenance from the forest and maintaining a semi-nomadic lifestyle, whilst enjoying a depth of culture and connection many of us in the West can only hanker for. And yet as we drive through a 12,000 hectare logging concession, it is apparent that precious little of these rich forests remain.

Instead, barren hillsides roll into the distance; scars of planting lines score the scrub; newly- placed palm trees replace the abundant forests that were here just a decade or two before.

A factory belches thick black smoke from its stack like some twisted scene from the Dr Seuss film Lorax. Astra group, Sinar Mas (another palm oil company) and others have been legally ascribed by the Sumatran Government officials and politicians the rights to log, clear and plant here. The only problem is no one told the Rimba.

Instead they were forcibly removed whilst their forest home was torn down.

Eventually the companies conceded and allowed the Orang Rimba back on the land, but with little to nothing left to provide them with a livelihood they've been forced to hunt wild pig, forage fallen palm fruits and spend time lamenting their old ways.

Of course this is a bleak picture but the feeling here today is one of frustration and incredulity: “What can we do then?”.

No one can answer.

One idea that is discussed this morning is a concession from Astra which translates as the granting of a slice of the plantation that this group can cultivate for its financial survival. It's a small price and other groups have been successful in winning rights to, for instance, tap rubber for sale.

Yet, it seems like the edge between two very different worlds collide here.

Just whose land is it? Those who were born, lived and died on it, or those who drew up convoluted legal agreements and signed away some of the most culturally-rich and biodiverse forests in South East Asia?

In the eyes of the law ownership lies with Astra today, but morally? Well, that's for history to judge.

 

Dilahan (milik) Siapa?

 

Hari belum menunjukkan pukul 9.15, namun sudah terjadi keributan pagi ini. Beberapa saat sebelum aku tiba di Desa Buit Suban, Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, Indonesia, sekelompok Orang Rimba datang ke area perusahaan kelapa sawit – bagian dari perusahaan konglomerat Indonesia – Astra group.

 

wanita dari kelompok Air Panas – salah satu kelompok Orang Rimba, telah mengumpulkan buah sawit busuk (berondolan sawit) dari wilayah perkebunan. Berondolan sawit tersebut masih bernilai dan menguntungkan bagi mereka saat dijual ke toke di desa demi bertahan hidup. Namun, secara hukum berondolan tersebut milik Astra.

 

Bukan lah hal yang biasa untuk berbicara langsung dengan wanita kelompok Orang Rimba. Biasanya, para wanita dihormati dan dilindungi dari orang luar. Kebanyakan komunitas tidak akan menjamu orang asing yang berbicara dengan wanita Orang Rimba. Namun kelompok dan keadaan ini begitu emosional, seluruh tabu seakan menghilang dan aku memperhatikan ketika wanita ini berbicara.  Ia memerankan penghinaan yang didapat dari keamanan lokal, Ia meniru agresi mereka. Melalui seorang penerjemah aku mendengarkan bagaimana mereka mengumpulkan buah (berondolan) sawit tersebut, membahayakan dirinya sendiri dan komunitasnya. Penjaga keamanan tersebut mengintimadisnya dengan pentungan yang mereka bawa, mengancam nya sampai ia terlihat terguncang dan terkadang terlihat kesal.

 

Kejadian ini mengusik komunitas Orang Rimba. mungkin buah sawit tersebut terlihat seperti kacang-kacangan (atau lebih tepatnya buah sawit), namun hal ini merupakan ingatan kebencian, emosi, yang terngiang kembali. Orang Rimba mewakili beberapa hutan tersisa yang didiami oleh masyarakat asli Sumatera. Mereka menjuluki diri mereka sebagai bagian dari hutan, secara harpiah, rumah mereka. kebanyakan dari mereka memilih untuk hidup di rumah yang sangat sederhana, mencari nafkah dari hutan dan mempertahankan gaya hidup semi nomadic, sambil menjalani kekentalan budaya dan hubungan erat dengan alam mereka. Namun, saat kami melewati 1200 ha konsesi penebangan, hanya sedikit dari kekayaan ini yang masih ada.

 

bukannya bukit tandus, malah sederatan tanaman seperti semak belukar yang terlihat dari kejauhan. pohon kelapa sawit baru yang ditanam menggantikan hutan terabaikan yang sudah ada disini selama satu atau dua dekade sebelumya. Sebuah pabrik yang mengeluarkan kepulan asap hitam dari cerobong nya seperti adegan dari Lorax.

 

Astra group, Sinar Mas dan perusahaan lainnya secara hukum memiliki hak untuk masuk, membersihkan dan menanam disini, masalahnya adalah, tidak ada yang memberitahu Orang Rimba. Mereka malah dipaksa untuk pergi dari sana dan rumah mereka dihancurkan.

 

Akhirnya perusahaan mengakui dan mengizinkan Orang Rimba kembali ke tanah mereka, namun hanya sedikit sekali bahkan cenderung tidak ada yang tersisa yang bisa dimanfaatkan sebagai matapencaharian. Mereka terpaksa berburu babi hutan, mencari berondolan sawit dan menghabiskan waktu mereka hanya untuk meratapi kehidupan mereka yang dulu. Tentu hal ini merupakan gambaran suram tetapi hari ini kekecewaan dan ketidak percayaan lah yang dirasakan. “lalu, apa yang bisa kita lakukan?” tidak seorang pun bisa menjawab. Satu gagasan yang didiskusikan pagi ini adalah Konsesi Astra, sedikit perkebunan yang dapat dimanfaatkan kelompok ini demi kelangsungan hidup mereka. Ini merupakan hal sederhana dan kelompok lain telah berhasil memenangkan hak meyadap karet, misalnya untuk dijual.

 

Namun, hal ini bagaikan tepi dari dua dunia yang sangat berbeda yang bertabrakan dititik ini. tanah milik siapa ini? mereka yang lahir, tinggal dan mati disini, atau mereka yang  membuat kesepakatan dan menyerahkan beberapa hutan yang kaya akan budaya dan keanekaragaman hayati di Asia Tenggara? Dimata hukum, semua itu milik Astra, namun secara moral, biarlah sejarah yang menilai.

 

 

 

 

Just whose land is it? Those who were born, lived and died on it, or those who drew up convoluted legal agreements and signed away some of the most culturally-rich and biodiverse forests in South East Asia?

Comments (0)
0 Comments